Translate

Tampilkan postingan dengan label Biography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biography. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 September 2015

Marie Antoinette (2006)

Starring: Kirsten Dunst, Jason Schwartzman, Asia Argento, Rip Torn, Jamie Dornan 

Perjalanan Putri Austria untuk menikah dengan Pangeran Louis XVI (Jason Schwartzman) di Perancis menjadi awal kisah Marie Antoinette (Kirsten Dunst) yang tersohor itu. Ratusan bahkan ribuan warga Perancis telah menanti kedatangan Putri cantik yang masih belia itu. Menikah di usia 15 tahun, pasangan itu tidak bisa serta merta melepas jiwa kekanakan mereka. Disaat Louis sibuk dengan hobinya berburu, Marie juga masih senang bermain dengan teman-temannya. Mendapatkan keturunan bukan hal yang penting bagi mereka. Terkadang Marie merasa tertekan dengan pesan ibunya soal anak, yang nantinya menjadi penerus kerajaan dan pembawa perdamaian antar dua wilayah, tapi ia tak bisa berbuat lebih banyak. Louis sering meninggalkannya, bahkan tidak pernah menyentuhnya sejak mereka menikah.
Film ini menyuguhkan kisah di balik tembok Istana Versailles yang megah, yang kadang tidak seindah bangunan Istana itu sendiri. Ada cerita Raja Louis XV (Rip Torn) yang tidak bisa jauh dari gundiknya, Comtesse Du Barry (Asia Argento), yang tidak disukai Marie. Sering juga terdengar cemoohan terhadap Marie yang belum juga memiliki anak disaat saudara yang lain sudah memilikinya. Terbuat dari emas dengan kaca-kaca dan taman air mancur yang memukau, keindahan Istana tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan para penghuninya.
Di usia 19 tahun, Louis XVI menggantikan Raja yang mangkat setahun sebelumnya. Menjadi Ratu Perancis tidak mengubah kebiasaan Marie bersenang-senang dengan berbelanja, menonton opera, dan berjudi. Ketika akhirnya Marie melahirkan seorang Putri, Louis menghadiahkan sebuah graha. Namun Marie tetap saja senang menghamburkan uang kerajaan untuk memenuhi hasrat pribadinya. Disaat yang bersamaan Perancis membutuhkan dana besar untuk Perang, selain Revolusi Perancis yang mulai bergaung. Sebuah dilema bagi Raja yang sangat menyayangi istrinya. Marie bahkan sempat berselingkuh dengan Kolonel Swedia, Axel Fersen (Jamie Dornan). Tapi Raja menutup mata terhadap hal itu.
Memiliki anak kedua, seorang Pangeran, Marie mulai belajar menjadi Ratu yang lebih bijak. Tapi terlambat. Kemarahan rakyat yang lapar tidak bisa dibendung lagi. Mereka menghancurkan apa saja bahkan menyerbu Istana untuk membunuh Ratu yang tidak bertanggung jawab. Meski berusaha untuk bertahan dan memperbaiki keadaan tapi tidak berhasil. Louis dan Marie dipaksa keluar dari Istana.
Bioghrapy singkat Marie Antoinette ini menyimpan tanya, membuat penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi pada Ratu yang begitu populer itu? Pengetahuan baru didapat, tentang Istana dan Kerajaan yang meski pernah jatuh tapi tetap bangkit dan kokoh hingga sekarang. Sejarah yang dipoles hingga nampak kekinian. Dan ya, aktris cantik Kirsten Dunst sangat sesuai berperan sebagai Marie. Secara keseluruhan bagus, hanya sedikit membosankan karena alur yang datar tanpa klimaks yang berarti. Untuk referensi, film ini jangan dilewatkan.

Rabu, 30 Juli 2014

Sang Pencerah (2010)

Starring: Ihsan Tarore, Lukman Sardi, Zaskia Adya Mecca, Slamet Rahardjo


Lahir di desa Kauman, Yogyakarta, di tengah keluarga kyai, keislaman Muhammad Darwis (Ihsan Tarore) tidak perlu diragukan lagi. Namun, melihat Islam disekitarnya yang dipadukan dengan unsur lain, seperti sesaji, mantra dan adat kejawen membuat Darwis miris. Pada usia yang masih terbilang muda Darwis mendapat restu orang tuanya untuk berangkat haji sekaligus menuntut ilmu di tanah suci. 
Sepulangnya dari Mekah, Darwis merubah namanya, sesuai dengan sertifikat yang diperolehnya, menjadi Ahmad Dahlan. Ia pun mulai menerapkan ilmu agamanya sebelum kemudian menikah dengan Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca).
Perubahan yang dibawa Haji Dahlan (Lukman Sardi) bukannya tanpa perlawanan warga. Arah sholat yang disesuaikannya dengan arah Ka’bah disanggah masyarakat. Ia bahkan dituduh kafir. Yang membuat Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) heran adalah keputusannya untuk mundur menjadi Khatib Masjid Gede, malah mengurus Langgar Kidoel yang jauh dari gengsi. Kyai Dahlan memilih untuk berdakwah secara sederhana. 
Keberangkatan haji yang kedua kalinya membuat Kyai Dahlan semakin mantap dengan niatnya mendidik masyarakat. Bergabung dengan Boedi Oetomo mengajarkan Kyai Dahlan bagaimana berorganisasi. Kemudian ia pun menawarkan diri mengajar Agama Islam di sekolah yang mayoritas muridnya adalah priyayi yang lebih mengenal bahasa Belanda daripada Bahasa Arab. Dan itu membuat warga kauman semakin membencinya. Tuduhan sebagai kafir diterima Kyai Dahlan dengan ikhlas. Dibantu murid-murid setianya Kyai Dahlan bertahan, bahkan bisa mendirikan Madrasah sendiri.
Dari sanalah cikal bakal Muhammadiyah terbentuk. Namun perjuangan belum selesai, karena banyak yang tidak memahami, Muhammadiyah hanyalah organisasi sosial bukan politik. Sebagian juga keliru menganggapnya sebagai agama atau keyakinan baru. Tanpa lelah Kyai Dahlan meluruskannya hingga saat ini bisa dilihat perjuangan Beliau tidak sia-sia. Sebuah karya yang cukup menghibur, sebuah kisah yang apik dari sosok luar biasa. Kyai Haji Ahmad Dahlan adalah Sang Pencerah.

Sabtu, 19 Juli 2014

Walk the Line (2005)

Starring: Joaquin Phoenix, Reesee Witherspoon, Ginnifer Goodwin, Tyler Hilton

Johnny R. Cash (Joaquin Phoenix) adalah penyanyi terkenal pada tahun 60’an. Ia banyak mencetak hits dan meraih banyak penghargaan. Namun ada cerita dibalik kesuksesannya.
Film ini dibuka dengan keriuhan di dalam penjara Folsom, yang merupakan moment titik balik seorang John Cash. Alur berjalan mundur, mengisahkan banyak peristiwa di masa lalu yang kini menjadi kenangan. Tentang kakaknya, yang telah tiada. Tentang pengalamannya di Angkatan Udara AS. Tentang perjuangannya pada awal pernikahannya dengan Vivian (Ginnifer Goodwin). Dan tentang musiknya yang perlahan tapi pasti mulai diterima masyarakat. Meski sempat mengalami penolakan, tapi dengan keuletannya, John berhasil mewujudkan cita-citanya sebagai penyanyi hingga masuk radio. John berhasil memenuhi segala impian Vivian dan keluarganya. Bersama bandnya, John telah menjadi orang sukses. Ia pun wajib mengikuti tur keliling kota bersama beberapa penyanyi terkenal lain yang satu label dengannya, seperti Elvis Presley (Tyler Hilton),  dan June Carter (Reesee Wiitherspoon). Penyanyi yang dikaguminya dari kecil.
Namun, berminggu-minggu, jauh dari rumah kadang membuat John jenuh. Beruntung ada June yang bukan hanya cantik tapi juga baik. Tapi sialnya, pengaruh buruk pun ada, John tidak bisa menolak ketika salah seorang rekan memberinya pil yang membuat John kecanduan. Semua masih baik-baik saja hingga John pingsan diatas panggung karena overdosis. Kemudian, dalam perjalanan pulang ia ditangkap polisi. Dan dirumah, ia ditinggalkan Vivian dan anak-anak. Hidup John berputar seratus delapan puluh derajat.
Sekali lagi, June datang menolongnya, mengembalikan John seperti sebelumnya. Tidak mudah, namun kekuatan cinta selalu bisa memberi energi lebih. Hingga John sembuh, June selalu menemani, mereka bahkan kembali tur bersama-sama lagi. Dan June pun tidak bisa menolak saat John melamarnya diatas panggung.
Lagu-lagu Johnny Cash mengiringi film ini, menjadikannya lebih hidup. Kisah yang panjang namun menarik untuk disimak. Bahwa cita-cita setinggi langit sekalipun pasti bisa diraih jika mau berusaha. John membuktikannya.

Jumat, 14 Maret 2014

A Beautiful Mind (2001)

Starring: Russell Crowe, Ed Harris, Jennifer Connelly, Christopher Plummer, Paul Bettany

Tahun 1947, John Nash (Russell Crowe) memulai pendidikannya di bidang matematika di Princeton University. Bersama banyak para jenius yang berlomba-lomba menerbitkan buku, bahkan melakukan riset dan penemuan yang berarti bagi dunia, Nash pun berjuang untuk menemukan ide asli yang berbeda yang bisa membuatnya menonjol. Alih-alih belajar di kelas, Nash lebih banyak melakukan penelitian di lapangan. Namun, pada akhirnya Nash berhasil membuktikan pada dunia dan berhasil mencapai cita-citanya untuk menjadi bagian dari Wheleer Laboratory yang bergengsi.
Meski demikian, hubungan Nash dengan manusia tidak sebaik hubungannya dengan buku. Satu-satunya sahabat adalah Herman Charles (Paul Bettany), teman sekamarnya di kampus. Jika diperhatikan, ada yang janggal dari Charles, selain tidak sungguh-sungguh belajar sebagaimana mahasiswa Princeton yang lain, Charles juga sering datang dan pergi sesuka hati. Dan dengan wanita, Nash malah pernah ditampar, sehingga membuatnya trauma untuk mendekati wanita. Tapi tidak dengan Alicia (Jennifer Connelly), mahasiswi cantik yang tidak kalah cerdas yang kemudian menjadi istrinya.

Suatu ketika, setelah sukses memecahkan kode yang diminta Pentagon, Nash ditunjuk menjadi agen rahasia oleh William Parcher (Ed Harris) yang disebutnya Big Brother. Pekerjaan yang rumit dengan resiko tinggi membuat Nash begitu ketakutan. Ditambah kondisi istrinya yang sedang hamil, membuat Nash ingin mundur. Namun Parcher menolak bahkan mengancamnya.

Di lain waktu, Nash malah ditahan oleh Dr Rosin (Christopher Plummer), ahli kejiwaan yang mengatakan Nash mengidap schizophrenia, gangguan jiwa dengan gejala paranoid dan halusinasi yang berlebihan. Dari sini kesetiaan Alicia diuji. Ketika hampir semua orang menganggap Nash gila, Alicia tetap mendukung dan dengan rasional menunjukkan pada Nash perbedaan antara imajinasi dan kenyataan.

Ada masa dimana Nash sengaja tidak mengkonsumsi obat sebagaimana seharusnya, yang kemudian mengantarnya pada masalah dan bagaimana menyelesaikannya. Sampai pada masa ia berani bersosialisasi dengan kembali ke kampus. Nash berhasil mengabaikan delusinya. Bukan itu saja, dunia pun mengakui keberhasilannya atas berbaagai penemuannya sehingga pada tahun 1994, Nash dianugerahi Nobel.

Inspirasional. Sama seperti Nash, film ini juga sangat cerdas. Meski agak sedikit berat tapi mampu membuat mata tak berkedip. A beautiful mind, benar-benar indah. Menyentuh tapi tak membuat iba. Malah membuat takjub dan menimbulkan keinginan untuk belajar terus dan terus. Bahwa menjadi jenius itu anugrah. Tapi dengan ketekunan siapapun bisa. Dan sebagai makhluk sosial, manusia perlu bersosialisasi, agar terjaga kemanusiaannya.